Pokoknya Harus UGM

Pokoknya Harus UGM

Mundur 8 tahun lalu saat saya pertama kalinya memiliki tujuan, masuk UGM. Toh, selama 17 tahun saya hidup apa pernah punya tujuan? SMP dipilihin, SMA pun sama. Hidup pun gitu-gitu aja. Masuk dan pulang sekolah selalu paling cepet, mana ada tuh ikut kegiatan sekolah. I’m a damn awkward person. SD dulu pernah bimbel, masuk sekali doang sisanya kabur. 3 tahun SMP, mayoritas ngelamun di jendela & gak pernah jajan. SMA, berapa kali pura-pura tidur? Because I’m scared of socializing.

“Pokoknya harus UGM.” Satu hal yang jadi turning point di hidup saya. That’s the first time I was hustling. Belajar di bimbel dari pagi sampe pagi selama 1 tahun di kelas tiga. This is also the first time I’ve best friends, up till now.

I never know why I want UGM. Is it a fate? Maybe. Yang pasti, Jogja jadi a fresh start. Because I don’t want to be the person who I was.

I’ve learnt a lot in Jogja. My first 3 years hasn’t been easy. I’ve failed, like a lot. But, I’ve found my true north the last 4 years (after trial and error, of course). Saya selalu suka berbagi. Bahkan sejak SMA (biar makin ngerti, dulu suka ngajarin orang). I just haven’t realized yet at that time. Itu yang jadi alasan saya, mulai dari buat website, ngisi kelas, atau buat buku. I always think it’s a way of thanking God for the knowledge.

Baca Juga: Berbagi Atau Tidak Sama Sekali

Kebetulan jurusan lagi ada #31hariMenulis. Udah dari dulu sih, tapi beberapa tahun terakhir belum ada ide buat nulis apa. Right now, I want to share my journey. Semua pengalaman selama 8 tahun terakhir. Mostly akan tentang karir. (Surely not relationship, because I’m suck lol). 8 tahun emang gak banyak, but if you find it useful, I hope you learn a lot. If not, still help me spread the love, mate. Enjoy!


I found my true purpose, thanks to GaryVee. Always grateful I’ve seen this video. You may want to watch it too!

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of